Wednesday, November 15, 2006

LEARNING IS A JOURNEY NOT A RACE

LEARNING IS A JOURNEY NOT A RACE

Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga tapi tidak mendengar musik; punya pikiran tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar (dikutip dari buku berjudul Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi)

Saya sedang ‘terkesima’ dengan buku karya Tetsuko (alias Totto-chan) itu, terutama pada alinea tersebut di atas dan dengan keseluruhan isi buku itu sendiri. Terutama ketika ceritanya membahas Mr Kobayashi-Kepala Sekolah dimana Totto-chan bersekolah.
Saya jadi teringat dengan pengalaman anak pertama saya (sekarang berumur 9 th), terutama setelah dia masuk di sekolah yang sekarang ini. Sekolah yang sekarang ini, menawarkan metode yang tidak jauh berbeda dengan metode yang digunakan oleh sekolah Totto-chan tersebut, artinya di luar pakem sekolah pada umumnya. Memang pada awalnya agak terasa janggal dan kurang meyakinkan, sebab tidak ada rapor dengan skor atau nilai, dan tidak ada ujian khusus. Hasil akhir dari setiap sesi adalah semacam laporan yang menjelaskan perkembangan atau progress anak yang bersangkutan.
Memang istri sayalah yang paling memperhatikan pendidikan dan menentukan sekolah bagi anak-anak kami, sebab ia sendiri seorang pendidik (dosen) dan memahami dunia pendidikan yang berkembang sekarang ini. Saya cenderung setuju-setuju saja dengan pilihannya, asalkan anak saya senang belajar dan bersekolah.
Kembali lagi pada anak pertama saya, setelah bersekolah di tempat yang sekarang ini (sebelumnya dia sekolah di sekolah “umum”), perkembangan secara kepribadiannya mengalami perubahan dan perbaikan yang jelas. Dia bertambah percaya diri dan lebih aktif bersosialisasi, sebelumnya dia cenderung introvert dan kurang mau bergaul dengan teman sesama kelasnya. Memang dibandingkan dengan adiknya, anak saya tersebut cenderung introvert dan lebih senang menyendiri dan asyik dengan dunia yang dia ciptakan sendiri. Sehingga ketika dia bergaul dengan teman sebayanya disekolahnya dulu, seringkali dia tidak diperhatikan dan dijauhi karena dianggap aneh.
Jujur saja, saya tidak pernah memaksakan anak saya harus juara kelas atau memaksakan kehendak saya kepada anak-anak saya. Saya selalu teringat waktu masih SMP hingga SMA, setiap ada acara keluarga, banyak para tetua keluarga membanggakan anak-anak mereka yang juara kelas (dan mungkin memaksakan agar mereka begitu). Orang tua saya-karena kondisi mereka yang berdua bekerja-lebih membiarkan saya melakukan apa yang saya mau asal tidak melakukan perbuatan yang merusak dan melanggar hukum (menggunakan obat dlsb).
Tapi kalau melihat kondisi sekarang ini, saya bersyukur, karena saya tetap berkembang sesuai dengan keinginan saya. Semua itu dapat tercapai karena SAYA SENANG BELAJAR. Bagi saya dan saya berusaha agar anak-anak saya juga punya pandangan saya sama, bahwa belajar adalah perjalanan dan bukan semacam perlombaan. Bahwa belajar itu adalah bagian dari hidup yang harus kita nikmati dan kita lakukan terus agar dapat menjadi manusia yang utuh dan bahagia. Saya sendiri kurang setuju dengan orang tua yang membebani anak-anak mereka dengan les atau kursus tambahan diluar jam pelajaran formal mereka. Kalau anak-anak itu senang dan meminta hal itu, memang harus kita dukung, tapi jangan lupa bahwa masing-masing anak itu unik dan istimewa, dan tugas utama kita sebagai orang tua lah untuk mengetahui, memahami dan mengerti tentang keunikan dan keistimewaan mereka, dan suatu kegagalan kita jika kita “mematikan” potensi terbesar mereka dengan target ataupun kehendak kita terhadap mereka.

4 comments:

Anonymous said...

Sepakat sekali dengan bukunya! memang menarik. Ngomong2 anaknya sekolah dimana?

Anonymous said...

Di High Scope TB Simatupang Pak.Thx

eka said...

Bahwa belajar itu adalah bagian dari hidup yang harus kita nikmati, setuju sekali pak Andri!

Jadi, kapan nih mau ngajari kita ttg computer security?
Ditunggu lho :-)

Anjar Priandoyo said...

wah sekarang pendidikan lebih rumit daripada kita kecil ya pak, banyak macem-macemnya. kayaknya dulu kalau sekolah tinggal sekolah aja, ga ada les, ga ada kursus macem-macem