
Pada hari Sabtu tanggal 3 Juli 2010 kemarin, kami sekeluarga melakukan perjalanan ke Kampung Baduy di daerah Banten. Kami menggunakan jasa travel Srikandi yang kami ketahui lewat milis jalansutera (big applause for mama Abeth). Kami berkumpul di Gedung Sarinah pada jam 7 pagi, karena jam 8 pagi kita sudah harus berkumpul untuk berangkat bersama. Setiba di Gedung Sarinah, kita bertemu dengan Pak Joko Langen-tour guide dari Srikandi Tour. Tidak lama kemudian, Om Ndut dan Tante Tinuk pun tiba untuk bergabung bersama kami yang sedang sarapan pagi Tony Jacks. Kemudian kami bergabung bersama peserta tour yang lain untuk 'upacara' penyambutan dari Srikandi Tour serta informasi penting terkait dengan perjalanan kita nanti. Selain kami bertujuh, terdapat 10 orang peserta lain. Kami berangkat dengan 2 kendaraan, kami menggunakan mobil Kia dan peserta lain menggunakan Elf.
Perjalanan ditempuh melalui Tol Serang. Perjalanan cukup lancar walau sempat terhambat karena jalan rusak parah di daerah kawasan industri di daerah Serang. Setibanya di tujuan, sahabat-sahabat kami dari Suku Baduy Dalam sudah menunggu di terminal itu. Pakaian yang mereka kenakan seragam. Bahan dan warnanya sama dan mengenakan ikat kepala warna putih. Ikat kepala itulah yang membedakan antara suku Baduy Dalam dan Baduy Luar.
Selanjutnya kami langsung memulai perjalanan kami ke Kampung Baduy Luar sebagai tempat tujuan pertama dan tempat menginap kami untuk semalam. Perjalanan menuju Kampung Baduy Luar cukup sulit karena setibanya disana hujan turun walau tidak deras. Kasihan Mas Wisnu, karena sendal Crocs kesayangannya sudah aus sehingga sangat menyulitkan Mas Wisnu. Untung Pak Joko cukup sabar menjaga Mas Wisnu, karena jalan yang sangat licin dan berapa kali dia terjatuh atau nyaris terjatuh. Walhasil, Papa dan Mas Wisnu tertinggal cukup jauh dengan rombongan di depan kami.
Setiba di Kampung Baduy Luar, kami langsung beristirahat di rumah milik tetua di Kampung tersebut yang sudah biasa menyambut dan menerima tamu-tamu dari Srikandi Tour. Sorenya kami mandi di kali dekat kampung tersebut. Perjalanan ke kali tersebut juga bukan perjalanan yang mudah. Kami harus ekstra hati-hati kalau tidak mau terpeleset karena jalanan yang licin. Mas Elan sangat menikmati proses ritual mandi sore tersebut, padahal air kali di kampung itu cukup dingin. Musibah terjadi ketika kami selesai mandi. Alih-alih kami ingin menghindari jalan yang licin, kami mencoba jalan alternatif lain yang ternyata lebih sulit hingga Papa sempat terjatuh. Mungkin karena lelah Papa sempat marah-marah. Untuk menghindari kemungkinan yang lebih buruk, kemudian kami balik kembali ke arah kali untuk melalui jalan sebelumnya.
Malam hari bukan lah keadaan yang mudah buat kami. Maklum saja, di daerah Kampung Baduy tidak boleh menggunakan listrik, sehingga pada malam hari di kampung tersebut cukup gelap. Penerangan hanya berupa lampu minyak. Masalah timbul kalau kami ingin buang air kecil, karena kamar kecil terletak di belakang rumah. Jangan tanya kalau ingin buang air besar? Kami harus ke kali untuk memenuhi kebutuhan yang satu itu!
Pak Joko sempat panik karena terdapat 3 rekan peserta yang tidak berkumpul sampai sore tiba. Ternyata 2 orang peserta keterusan hingga ke kampung yang lebih jauh dan 1 orang peserta yang sudah bergabung tapi keasyikan mencari objek foto hingga agak tersesat. Untungnya sahabat-sahabat Baduy Dalam bisa menemukan mereka semua dan membawa kembali ke kampung tempat kami menginap. Kasihan 2 orang yang tersesat, mereka tersesat jauh hingga setibanya di kampung sudah larut malam dengan tubuh yang sangat lelah.
Acara malam itu selebihnya hanya makan malam. Oh iya, untuk masalah makanan, kami harus menerima menu yang disediakan oleh Pak Joko. Menu 'yang penting kenyang' terdiri dari mie goreng di malam hari dan mie rebus untuk keesokan pagi merupakan pilihan satu-satunya yang ada. Sehabis makan malam, kami mendengar cerita dari pemilik rumah sekaligus tetua di kampung tersebut. Kami juga diijinkan untuk bertanya seputar adat-istiadat Suku Baduy Luar dan Suku Baduy Dalam. Sahabat-sahabat dari Baduy Dalam juga ikut menunggu kami di kampung tersebut dan ikut ngobrol sepanjang sore hingga malam. Dari mereka kita mengetahui apa saja adat-istiadat yang mereka pegang teguh selama ini selama beberapa puluh generasi. Adat-istiadat yang menurut kami manusia modern 'tidak masuk akal' tapi sejujurnya saya mengatakan bahwa adat mereka itu sangat lah bijaksana. Manusia modern baru sekarang ini mendeklarasikan Back to Nature, Go Green dan jargon-jargon pemeliharaan lingkungan hidup lainnya. Orang Baduy sudah menerapkan pemeliharaan lingkungan sudah sejak berabad-abad yang lalu. Mereka tidak mengenal pestisida di tanah adat mereka. Orang Baduy Dalam bahkan tidak boleh menggunakan cangkul untuk bercocok-tanam!
Satu hal yang membuat saya terkesan dengan mereka adalah walau mereka tidak boleh bersekolah atau mengenyam pendidikan formal, tapi ketika kami berbicara tidak terlihat ada 'gap' diantara kami. Artinya mereka cukup cerdas. Bahkan diantara mereka cukup well informed dengan berita-berita terkini.
Satu hal lain yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah pantangan suku Baduy Dalam berupa pantangan naik kendaraan. Walhasil mereka kalau ingin ke Jakarta harus berjalan kaki 2 hari 2 malam! Atau ketika mereka hendak menginap di salah satu apartemen di Jakarta, mereka harus mendaki tangga ke lantai 26! Dan mereka mematuhi semua aturan itu.
Pagi jam 9, kami memulai perjalanan ke Kampung Baduy Dalam. Disinilah bermula perjalanan heroik Mas Elan. Perjalanan yang memakan waktu nyaris 4 jam di dalam hutan lindung dengan kondisi jalan yang berat (ada jalan mendaki nyaris 45 derajat dengan ketinggian lebih dari 100 meter!), melalui sungai, jembatan bambu, jalan menurun yang licin akhirnya dapat dilalui oleh Mas Elan! Pak Joko pada akhir trip akhirnya mengaku bahwa Mas Elan merupakan peserta termuda yang pernah ada! Pada awalnya dia juga ragu apakah Mas Elan sanggup sampai titik akhir perjalanan. Dia sempat menghibur dirinya dengan berpikir kalau anak umur 4 tahun bisa digendong, tapi ketika melihat 'ukuran dan berat' anak Papah dia mulai ragu untuk menggendong jika Mas Elan tidak sanggup berjalan lagi.
Salah satu kunci keberhasilan Mas Elan dan juga Mas Thobi dan Mas Wisnu menyelesaikan perjalanan adalah bantuan dari sahabat-sahabat Baduy Dalam. Mereka dengan sabar dan tekun menjaga dan membantu anak-anak Papa dan Mama sepanjang perjalanan. Semoga Tuhan memberkati mereka!
Setiba di kampung Baduy Dalam kami langsung beristirahat dan makan siang di rumah Pak Ardi, warga kampung itu. Kami beristirahat cukup lama disana dan kami membeli barang-barang kerajinan tangan, madu, dan gula aren dari penduduk disana. Orang Baduy Dalam sangat membutuhkan uang dari hasil penjualan itu untuk membeli beras guna makan sehari-hari. Adapun beras hasil tanaman padi mereka akan disimpan dalam lumbung untuk upacara-upacara keagamaan dan untuk cadangan jika terjadi bencana kebakaran misalnya. Satu poin lagi untuk mereka yang ternyata sudah menerapkan Manajemen Risiko dalam kehidupan sehari-hari.
Perjuangan hari itu belum usai, karena untuk menuju ke mobil jemputan, kami harus berjalan kaki lagi selama 2 jam lebih dengan kondisi jalan yang sama menantangnya. Sekali lagi, jagoan-jagoan Papa dapat melewatinya dengan juara paling akhir tiba adalah Mas Wisnu! Dia punya motto: biar lambat asal selamat.
Setiba di kampung tempat menunggu mobil jemputan, kami menyempatkan mandi sore di salah satu rumah penduduk. Papa ingat sempat mengajukan protes ke Pak Joko karena sampai jam 8 belum ada tanda-tanda berangkat pulang. Padahal hari mulai mendung dan menurut pemilik rumah tempat kami mandi, jalan pulang yang harus kami lalui cukup berat dan rawan ketika hujan.
Akhirnya kami pun memulai perjalanan pulang, dan benar saja ketika harus melalui jalan tanjakan yang sangat curam, kami harus turun dari mobil karena mobil kami tidak kuat menanjak. Walhasil, kami harus kembali berjuang mendaki jalan malam itu. Mama sempat terlihat sangat lelah ketika mendaki jalan itu.
Selebihnya perjalanan pulang cukup ke Jakarta cukup lancar dan kami tiba kembali di Gedung Sarinah pukul 01.00 dini hari! Suasana di kawasan itu masih ramai, mungkin karena ada kejuaran World Cup sehingga banyak orang masih terjaga.
Setibanya di rumah, Papa masih punya tugas untuk menggendong Mas Elan dari mobil ke kamar tidur. Bukanlah perjuangan yang mudah. Untung Papa selama 3 bulan terakhir rajin latihan Muay Thai sehingga masih cukup kuat menggendong "star of the trip."
Besok pagi Papa tetap harus bekerja. Om Ndut sama Tante Tinuk ambil cuti, kecapekan rupanya mereka. Mas Elan ternyata kakinya kaku dan biru, sehingga tidak bisa ditekuk. Kasihan. Untung Mama sigap mencari obat urut di Toko Obat Cina dan ternyata manjur! Sore harinya, sang jagoan cilik sudah bisa berjalan lagi seperti biasa.
Sampai hari ini, Papa masih terkesan dengan pengalaman itu dan masih terbayang wajah-wajah lugu dan tulus dari sahabat-sahabat Baduy Dalam.
Suatu saat kami akan kembali lagi kesana.


