Wednesday, July 07, 2010

Kearifan Suku Baduy


Pada hari Sabtu tanggal 3 Juli 2010 kemarin, kami sekeluarga melakukan perjalanan ke Kampung Baduy di daerah Banten. Kami menggunakan jasa travel Srikandi yang kami ketahui lewat milis jalansutera (big applause for mama Abeth). Kami berkumpul di Gedung Sarinah pada jam 7 pagi, karena jam 8 pagi kita sudah harus berkumpul untuk berangkat bersama. Setiba di Gedung Sarinah, kita bertemu dengan Pak Joko Langen-tour guide dari Srikandi Tour. Tidak lama kemudian, Om Ndut dan Tante Tinuk pun tiba untuk bergabung bersama kami yang sedang sarapan pagi Tony Jacks. Kemudian kami bergabung bersama peserta tour yang lain untuk 'upacara' penyambutan dari Srikandi Tour serta informasi penting terkait dengan perjalanan kita nanti. Selain kami bertujuh, terdapat 10 orang peserta lain. Kami berangkat dengan 2 kendaraan, kami menggunakan mobil Kia dan peserta lain menggunakan Elf.
Perjalanan ditempuh melalui Tol Serang. Perjalanan cukup lancar walau sempat terhambat karena jalan rusak parah di daerah kawasan industri di daerah Serang. Setibanya di tujuan, sahabat-sahabat kami dari Suku Baduy Dalam sudah menunggu di terminal itu. Pakaian yang mereka kenakan seragam. Bahan dan warnanya sama dan mengenakan ikat kepala warna putih. Ikat kepala itulah yang membedakan antara suku Baduy Dalam dan Baduy Luar.
Selanjutnya kami langsung memulai perjalanan kami ke Kampung Baduy Luar sebagai tempat tujuan pertama dan tempat menginap kami untuk semalam. Perjalanan menuju Kampung Baduy Luar cukup sulit karena setibanya disana hujan turun walau tidak deras. Kasihan Mas Wisnu, karena sendal Crocs kesayangannya sudah aus sehingga sangat menyulitkan Mas Wisnu. Untung Pak Joko cukup sabar menjaga Mas Wisnu, karena jalan yang sangat licin dan berapa kali dia terjatuh atau nyaris terjatuh. Walhasil, Papa dan Mas Wisnu tertinggal cukup jauh dengan rombongan di depan kami.
Setiba di Kampung Baduy Luar, kami langsung beristirahat di rumah milik tetua di Kampung tersebut yang sudah biasa menyambut dan menerima tamu-tamu dari Srikandi Tour. Sorenya kami mandi di kali dekat kampung tersebut. Perjalanan ke kali tersebut juga bukan perjalanan yang mudah. Kami harus ekstra hati-hati kalau tidak mau terpeleset karena jalanan yang licin. Mas Elan sangat menikmati proses ritual mandi sore tersebut, padahal air kali di kampung itu cukup dingin. Musibah terjadi ketika kami selesai mandi. Alih-alih kami ingin menghindari jalan yang licin, kami mencoba jalan alternatif lain yang ternyata lebih sulit hingga Papa sempat terjatuh. Mungkin karena lelah Papa sempat marah-marah. Untuk menghindari kemungkinan yang lebih buruk, kemudian kami balik kembali ke arah kali untuk melalui jalan sebelumnya.
Malam hari bukan lah keadaan yang mudah buat kami. Maklum saja, di daerah Kampung Baduy tidak boleh menggunakan listrik, sehingga pada malam hari di kampung tersebut cukup gelap. Penerangan hanya berupa lampu minyak. Masalah timbul kalau kami ingin buang air kecil, karena kamar kecil terletak di belakang rumah. Jangan tanya kalau ingin buang air besar? Kami harus ke kali untuk memenuhi kebutuhan yang satu itu!
Pak Joko sempat panik karena terdapat 3 rekan peserta yang tidak berkumpul sampai sore tiba. Ternyata 2 orang peserta keterusan hingga ke kampung yang lebih jauh dan 1 orang peserta yang sudah bergabung tapi keasyikan mencari objek foto hingga agak tersesat. Untungnya sahabat-sahabat Baduy Dalam bisa menemukan mereka semua dan membawa kembali ke kampung tempat kami menginap. Kasihan 2 orang yang tersesat, mereka tersesat jauh hingga setibanya di kampung sudah larut malam dengan tubuh yang sangat lelah.
Acara malam itu selebihnya hanya makan malam. Oh iya, untuk masalah makanan, kami harus menerima menu yang disediakan oleh Pak Joko. Menu 'yang penting kenyang' terdiri dari mie goreng di malam hari dan mie rebus untuk keesokan pagi merupakan pilihan satu-satunya yang ada. Sehabis makan malam, kami mendengar cerita dari pemilik rumah sekaligus tetua di kampung tersebut. Kami juga diijinkan untuk bertanya seputar adat-istiadat Suku Baduy Luar dan Suku Baduy Dalam. Sahabat-sahabat dari Baduy Dalam juga ikut menunggu kami di kampung tersebut dan ikut ngobrol sepanjang sore hingga malam. Dari mereka kita mengetahui apa saja adat-istiadat yang mereka pegang teguh selama ini selama beberapa puluh generasi. Adat-istiadat yang menurut kami manusia modern 'tidak masuk akal' tapi sejujurnya saya mengatakan bahwa adat mereka itu sangat lah bijaksana. Manusia modern baru sekarang ini mendeklarasikan Back to Nature, Go Green dan jargon-jargon pemeliharaan lingkungan hidup lainnya. Orang Baduy sudah menerapkan pemeliharaan lingkungan sudah sejak berabad-abad yang lalu. Mereka tidak mengenal pestisida di tanah adat mereka. Orang Baduy Dalam bahkan tidak boleh menggunakan cangkul untuk bercocok-tanam!
Satu hal yang membuat saya terkesan dengan mereka adalah walau mereka tidak boleh bersekolah atau mengenyam pendidikan formal, tapi ketika kami berbicara tidak terlihat ada 'gap' diantara kami. Artinya mereka cukup cerdas. Bahkan diantara mereka cukup well informed dengan berita-berita terkini.
Satu hal lain yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah pantangan suku Baduy Dalam berupa pantangan naik kendaraan. Walhasil mereka kalau ingin ke Jakarta harus berjalan kaki 2 hari 2 malam! Atau ketika mereka hendak menginap di salah satu apartemen di Jakarta, mereka harus mendaki tangga ke lantai 26! Dan mereka mematuhi semua aturan itu.
Pagi jam 9, kami memulai perjalanan ke Kampung Baduy Dalam. Disinilah bermula perjalanan heroik Mas Elan. Perjalanan yang memakan waktu nyaris 4 jam di dalam hutan lindung dengan kondisi jalan yang berat (ada jalan mendaki nyaris 45 derajat dengan ketinggian lebih dari 100 meter!), melalui sungai, jembatan bambu, jalan menurun yang licin akhirnya dapat dilalui oleh Mas Elan! Pak Joko pada akhir trip akhirnya mengaku bahwa Mas Elan merupakan peserta termuda yang pernah ada! Pada awalnya dia juga ragu apakah Mas Elan sanggup sampai titik akhir perjalanan. Dia sempat menghibur dirinya dengan berpikir kalau anak umur 4 tahun bisa digendong, tapi ketika melihat 'ukuran dan berat' anak Papah dia mulai ragu untuk menggendong jika Mas Elan tidak sanggup berjalan lagi.
Salah satu kunci keberhasilan Mas Elan dan juga Mas Thobi dan Mas Wisnu menyelesaikan perjalanan adalah bantuan dari sahabat-sahabat Baduy Dalam. Mereka dengan sabar dan tekun menjaga dan membantu anak-anak Papa dan Mama sepanjang perjalanan. Semoga Tuhan memberkati mereka!
Setiba di kampung Baduy Dalam kami langsung beristirahat dan makan siang di rumah Pak Ardi, warga kampung itu. Kami beristirahat cukup lama disana dan kami membeli barang-barang kerajinan tangan, madu, dan gula aren dari penduduk disana. Orang Baduy Dalam sangat membutuhkan uang dari hasil penjualan itu untuk membeli beras guna makan sehari-hari. Adapun beras hasil tanaman padi mereka akan disimpan dalam lumbung untuk upacara-upacara keagamaan dan untuk cadangan jika terjadi bencana kebakaran misalnya. Satu poin lagi untuk mereka yang ternyata sudah menerapkan Manajemen Risiko dalam kehidupan sehari-hari.
Perjuangan hari itu belum usai, karena untuk menuju ke mobil jemputan, kami harus berjalan kaki lagi selama 2 jam lebih dengan kondisi jalan yang sama menantangnya. Sekali lagi, jagoan-jagoan Papa dapat melewatinya dengan juara paling akhir tiba adalah Mas Wisnu! Dia punya motto: biar lambat asal selamat.
Setiba di kampung tempat menunggu mobil jemputan, kami menyempatkan mandi sore di salah satu rumah penduduk. Papa ingat sempat mengajukan protes ke Pak Joko karena sampai jam 8 belum ada tanda-tanda berangkat pulang. Padahal hari mulai mendung dan menurut pemilik rumah tempat kami mandi, jalan pulang yang harus kami lalui cukup berat dan rawan ketika hujan.
Akhirnya kami pun memulai perjalanan pulang, dan benar saja ketika harus melalui jalan tanjakan yang sangat curam, kami harus turun dari mobil karena mobil kami tidak kuat menanjak. Walhasil, kami harus kembali berjuang mendaki jalan malam itu. Mama sempat terlihat sangat lelah ketika mendaki jalan itu.
Selebihnya perjalanan pulang cukup ke Jakarta cukup lancar dan kami tiba kembali di Gedung Sarinah pukul 01.00 dini hari! Suasana di kawasan itu masih ramai, mungkin karena ada kejuaran World Cup sehingga banyak orang masih terjaga.
Setibanya di rumah, Papa masih punya tugas untuk menggendong Mas Elan dari mobil ke kamar tidur. Bukanlah perjuangan yang mudah. Untung Papa selama 3 bulan terakhir rajin latihan Muay Thai sehingga masih cukup kuat menggendong "star of the trip."
Besok pagi Papa tetap harus bekerja. Om Ndut sama Tante Tinuk ambil cuti, kecapekan rupanya mereka. Mas Elan ternyata kakinya kaku dan biru, sehingga tidak bisa ditekuk. Kasihan. Untung Mama sigap mencari obat urut di Toko Obat Cina dan ternyata manjur! Sore harinya, sang jagoan cilik sudah bisa berjalan lagi seperti biasa.
Sampai hari ini, Papa masih terkesan dengan pengalaman itu dan masih terbayang wajah-wajah lugu dan tulus dari sahabat-sahabat Baduy Dalam.
Suatu saat kami akan kembali lagi kesana.

Sunday, December 13, 2009

AccessData Certified Examiner (ACE)


Minggu lalu akhirnya saya berhasil melalui ujian untuk mendapatkan AccessData Certified Examiner (ACE)-sertifikasi dari AcessData untuk menunjukkan seseorang telah mampu menggunakan aplikasi forensik FTK yang meliputi FTK ver 3.0, FTK Imager, Registry Viewer dan PRTK. Ujiannya tidak terlalu sulit menurut saya, lebih sulit ketika kami mengikuti ujian Practical Student Assessment (PSA) sewaktu mengikuti Bootcamp. Setelah mendapat sertifikasi, ternyata kami harus mengikuti ujian maintanance tahun depan dalam bentuk Live on line Training (LOT). Mudah-mudahan kami semua bisa lulus kembali.

Saturday, May 30, 2009

Gitar Akustik

Setelah searching beberapa gitar akustik di beberapa komunitas pemain gitar di tanah air, saya mendapatkan beberapa merk gitar akustik yang katanya "the best in town", entah kapan saya bisa punya semuanya, tapi yang jelas saya sudah punya Larrivee L-03 (second) dan Martin DXME (new) sudah happy banget. Ada beberapa merk gitar akustik yang bikin saya penasaran seperti Cole Clark buat Australia, Taylor, Gibson Accoustic dan Godin Accoustic (terutama yang string nilon). Beberapa merk seperti Guild dan Takamine boleh juga tuh. Tapi pernah saya mencoba Takamine tapi kok soundnya kurang masuk telinga saya. Kurang "berat" dan "bulat" menurut saya. Ternyata banyak sekali merk-merk gitar akustik dengan kualitas premium di bumi ini, maklum sejak SMP saya tahunya cuma Yamaha saja. Tapi jangan salah, merk Yamaha juga punya seri dengan harga premium juga. Sempat penasaran juga dengan seri yang silent guitar. Soundnya lumayan jika dibandingkan dengan harganya. Worth to have I presume. Sementara cukup punya yang ada dulu. Maklum kemarin habis beli amplifier merk Fender. Jadi nabung dulu aja. Lagipula anak mau nambah, so harus lebih irit.

Wednesday, May 27, 2009

Cisco dan Ubuntu

Part I: Cisco
Minggu lalu, selama 5 hari kami ber-10 mengikuti pelatihan ICND 1 untuk mendalami program CCENT. Memang program pelatihan dari Cisco ini relatif masih baru. Jadi bagi mereka yang sudah mengikuti pelatihan ICND 1 bisa ikut ujian sertifikasi CCENT. Biasanya program sertifikasi di Cisco kan CCNA, nah program CCENT untuk entry network technician. Lumayan, buat menambah pengalaman teknis dibidang jaringan. Selama ini tahunya kan cuma teori saja dan paling scanning network. Teman-teman sepakat nanti mau bikin jaringan sendiri buat laboratorium dan NAS (network area storage) untuk file sharing.
Part II: Linux Ubuntu
Nah minggu ini kita ber-8 mengadakan pelatihan Linux Ubuntu untuk Desktop dan Server. Nggak lama, hanya 5 hari @ 3 jam. Maklum habis training full selama 5 hari terus training lagi. Bisa-bisa otak kami mengalami "buffer overflow" terus "Request Time Out" ha..ha..ha.. Kami memang harus mendalami linux terutama untuk server karena perkembangan yang ada sekarang ini menunjukkan semakin banyak organisasi yang menggunakan OS linux dalam server mereka. Selama ini saya menggunakan linux sebatas Knoppix pada Helix dan BackTrack saja. Tapi itu hanya sebatas pada level GUI nya saja belum mendalami command-commandnya.
Hikmah yang kita dapat dari pelatihan selama hampir 2 minggu ini adalah semakin mendalami command-command di Cisco dan Linux yang berbasis UNIX, jadi logikanya masih sama dan sejalan. Hikmah yang kedua: membiasakan diri untuk tidak selalu menggunakan GUI!!! Harus belajar pakai command prenko!!!

Sunday, May 03, 2009

Gitar Baru ku

Selama 2 minggu terakhir ini, saya lagi keranjingan hobi lama: main gitar! (sebetulnya lebih cocok mencari tab-tab gitar). Awalnya gara-gara dengar lagu Goin' With The Wind Blows-nya Mr.Big terus penasaran gara-gara dulu pingin banget bisa mainin gitarnya. Akhirnya dapat satu solusi yang paling jitu dan sangat efektif : Youtube! Busyet, memang website yang satu itu menyediakan semuanya (menurut saya tentunya). Tab dan teknik gitar dari lagu-lagu terkenal hampir semuanya ada. Memang ada yang memberikan tutorialnya dengan rinci, tapi ada juga yang cuma main gitar dan nyanyi tanpa bermaksud memberikan tutorial. Gak masalah sih, asal di download aja setelah itu dipelototin tuh video untuk dapat tab nya. Walhasil tab-tab gitar lagu-lagu seperti Wild World, Black Bird, Sempurna, Tears in Heaven, Wonderwall, Dust in The Wind dll bisa diperoleh dan dimainkan lengkap. Dulu saya hanya bisa sepotong atau kurang lengkap. Tapi sekarang timbul masalah baru, gitar yang ada kurang mendukung kebutuhan. Sound-nya tidak seperti orang-orang yang meng-upload video di Youtube, kurang banget menurut saya. Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari sang Nyonya, hari Jumat kemarin saya boleh beli gitar baru merknya Martin & Co, termasuk gitar yang premium menurut saya. Banyak pemain gitar atau penyanyi yang terkenal telah menggunakan gitar merk itu. Memang sound nya TOP BGT! Puas banget. Sekarang koleksi tab gitar saya sudah bertambah dengan Details in Fabric (lengkap), Under The Bridge (belum bisa utuh) dan Why Georgia (tinggal dikit lagi). Dua lagu itu tab-nya susah buat saya yang teknik gitarnya pas-pasan. Hobi baru saya ini sangat menolong terutama sekarang ini dimana istri lagi hamil muda, sehingga sering masih sore saya ditinggal tidur sama Nyonya ku. My new guitar..I love u so much!! Dikau menemani diriku dikala kesunyian itu tiba....ha..ha..ha.. (for my lovely wife: you still unreplaceable and number one in my heart. It's just temporary situation and under spesific circumtances..walahhhh!)

Saturday, March 28, 2009

Musibah dan Antisipasi

Berita mengenai musibah yang menimpa warga di sekitar Situ Gintung sangat mengagetkan sekaligus memilukan. Musibah tersebut banyak sekali memakan korban jiwa, bahkan ada seorang Ayah yang bernama Oscar-seorang sutradara dari TVRI-harus merelakan istri dan keempat anaknya menghadap Tuhan YME. Saya dan istri yang melihat berita tersebut di TV sempat tercekam, karena membayangkan betapa sedihnya beliau. Saya berdoa untuk Bpk Oscar agar diberikah ketabahan dan keteguhan hati dan juga untuk jiwa keluarga beliau yang telah berpulang ke rumah yang abadi di Surga. Doa yang sama saya juga panjatkan untuk keluarga-keluarga yang lain akibat musibah Situ Gintung.
Terlepas dari musibah tersebut adalah karena alam (act of nature), sulit bagi saya tidak berpikir bahwa hal tersebut diakibatkan pula oleh tidak adanya antisipasi dari pihak-pihak yang terkait dan bertanggung-jawab akan masalah tersebut. Sekali lagi, satu penyakit kronis dari Republik ini memakan korbannya, yaitu KETIDAKPEDULIAN. Banyak pejabat boleh beropini dan memiliki argumen mengenai musibah itu, tetapi kondisi yang laten yang menyebabkan musibah itu dan banyak musibah yang sudah akan terjadi adalah KETIDAKPEDULIAN. Sebetulnya banyak masalah di negeri ini bukanlah masalah yang sulit dan pelik, tetapi ketika kita sudah tidak peduli karena memang tidak ada manfaat yang dapat diperoleh atau kepentingan pribadi yang berbicara, maka musibah hanya masalah waktu dan tempat saja.
Ironis sekali ketika sehabis melihat berita mengenai musibah di Situ Gintung, di saluran TV yang lain terdapat berita mengenai antisipasi yang dilakukan oleh beberapa negara maju menghadapi ancaman pemanasan global. Banyak uang dikeluarkan oleh pemerintah negara tersebut untuk membangun bendungan-bendungan canggih untuk mengantisipasi naiknya permukaan air laut akibat global warming. Dan upaya tersebut sudah dilakukan jauh-jauh hari. Saya pesimis, setelah bencana Situ Gintung, pemerintah akan melakukan upaya deteksi dan preventif untuk mengantisipasi potensi bencana yang sama dikemudian hari. Mudah-mudahan saya sangat salah akan hal ini.
(Ketika kita mengetahui kejahatan telah terjadi dan kita tidak peduli, maka kita menjadi bagian dari kejahatan itu sendiri)

Filantropi


Menurut Wikipedia, kata filantropi berasal dari bahasa Yunani, yaitu philein, "cinta" dan anthropos, "manusia." Berarti filantropi adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama (manusia) sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Istilah ini umumnya diberikan pada orang-orang yang memberikan banyak dana untuk amal.
Salah satu filantrofis yang cukup terkenal adalah John D. Rockefeller (JDR). Dialah industriawan terkaya yang memiliki pengaruh cukup besar di masanya hingga sekarang. Jika dibandingkan dengan tingkat inflasi dan daya beli, kekayaan yang dimiliki Bill Gates hanya berada tiga tingkat dibawahnya.
Memang tulisan ini berangkat dari kekaguman saya akan tokoh tersebut. Kedermawanan beliau dimulai sejak pertama kali dia mendapatkan gajinya, dimana dia selalu menyisihkan sepersepuluh penghasilannya untuk amal. Jumlah amal yang diberikan terus berkembang seiring dengan semakin banyaknya penghasilan yang dia peroleh. Dunia pendidikan dan kesehatan publik merupakan bidang-bidang amal yang paling banyak menerima sokongan dari JDR.
Dalam bidang usaha, beliau mewariskan perusahaan-perusahaan minyak terbesar di dunia yang awalnya berasal dari satu perusahaan yang dimiliki oleh JDR yaitu Standard Oil, bahkan Federal Reserve Bank-Bank Sentral milik pemerintah AS- awalnya adalah bank milik Standard Oil tsb.
Dana amal dari JDR juga mendukung sepenuhnya pembentukan PBB (United Nations) serta organisasi seperti WHO, UNESCO dan UNICEF. Dengan banyaknya dana amal yang diberikan kepada masyarakat dan dunia, tidak heran jika sampai akhir hayatnya, JDR hanya menyisakan US$ 25 juta untuk dirinya sendiri.
Menurut pandangan pribadi saya, orang seperti JDR inilah yang disebut manusia yang memiliki hidup yang abadi, artinya walaupun dia sudah wafat, namun keberadaannya masih terus dirasakan dan manfaat yang diterima oleh banyak orang terus mengalir. Benar-benar orang yang menggarami dunia dan pribadi yang patut dan layak dicontoh.
Ada tulisan yang ditulis oleh beliau sendiri yang menggambarkan seluruh kisah hidupnya yang sangat berkesan buat saya:

I was early taught to work as well as play

My life has been one long, happy holiday

Full of work and full of play


I dropped the worry on the way


And God was good to me everyday