Saturday, March 28, 2009

Musibah dan Antisipasi

Berita mengenai musibah yang menimpa warga di sekitar Situ Gintung sangat mengagetkan sekaligus memilukan. Musibah tersebut banyak sekali memakan korban jiwa, bahkan ada seorang Ayah yang bernama Oscar-seorang sutradara dari TVRI-harus merelakan istri dan keempat anaknya menghadap Tuhan YME. Saya dan istri yang melihat berita tersebut di TV sempat tercekam, karena membayangkan betapa sedihnya beliau. Saya berdoa untuk Bpk Oscar agar diberikah ketabahan dan keteguhan hati dan juga untuk jiwa keluarga beliau yang telah berpulang ke rumah yang abadi di Surga. Doa yang sama saya juga panjatkan untuk keluarga-keluarga yang lain akibat musibah Situ Gintung.
Terlepas dari musibah tersebut adalah karena alam (act of nature), sulit bagi saya tidak berpikir bahwa hal tersebut diakibatkan pula oleh tidak adanya antisipasi dari pihak-pihak yang terkait dan bertanggung-jawab akan masalah tersebut. Sekali lagi, satu penyakit kronis dari Republik ini memakan korbannya, yaitu KETIDAKPEDULIAN. Banyak pejabat boleh beropini dan memiliki argumen mengenai musibah itu, tetapi kondisi yang laten yang menyebabkan musibah itu dan banyak musibah yang sudah akan terjadi adalah KETIDAKPEDULIAN. Sebetulnya banyak masalah di negeri ini bukanlah masalah yang sulit dan pelik, tetapi ketika kita sudah tidak peduli karena memang tidak ada manfaat yang dapat diperoleh atau kepentingan pribadi yang berbicara, maka musibah hanya masalah waktu dan tempat saja.
Ironis sekali ketika sehabis melihat berita mengenai musibah di Situ Gintung, di saluran TV yang lain terdapat berita mengenai antisipasi yang dilakukan oleh beberapa negara maju menghadapi ancaman pemanasan global. Banyak uang dikeluarkan oleh pemerintah negara tersebut untuk membangun bendungan-bendungan canggih untuk mengantisipasi naiknya permukaan air laut akibat global warming. Dan upaya tersebut sudah dilakukan jauh-jauh hari. Saya pesimis, setelah bencana Situ Gintung, pemerintah akan melakukan upaya deteksi dan preventif untuk mengantisipasi potensi bencana yang sama dikemudian hari. Mudah-mudahan saya sangat salah akan hal ini.
(Ketika kita mengetahui kejahatan telah terjadi dan kita tidak peduli, maka kita menjadi bagian dari kejahatan itu sendiri)