Tanggal 19-23 November 2007 yang lalu kami berempat dari DJP mendapat kesempatan untuk melakukan study visit ke South African Revenue Service (SARS) di kota Pretoria. Kami berangkat hari Sabtu tanggal 17 November dan transit di Singapore. Perjalanan dari Singapore ke Bandara di Johannesberg memakan waktu 11 jam lebih, cukup lelah memang. Baru sekarang ini saya pergi menggunakan pesawat untuk waktu selama itu.
Setibanya disana hari Minggu pagi dan kita sudah ditunggu supir taxi yang sudah dipesan sebelumnya oleh pemilik guest house dimana kita akan menginap nanti. Sepanjang jalan tol dari Bandara menuju Pretoria banyak terdapat padang rumput yang luas. Musimnya pada waktu itu adalah musim panas, tapi secara keseluruhan suhu disana tidak sepanas di Jakarta, maksimal berkisar 30 derajat celcius.
Sekilas kota Pretoria tidak sebesar kota Jakarta. Tidak banyak gedung bertingkat dan kawasan Guest House yang kami tempati adalah kawasan yang tenang dan sangat rindang. Menurut pemilik guest house-Ms Hannah dan Mr Hannes-kawasan itu merupakan salah satu kawasan tertua di Pretoria. Sorenya saya menyempatkan pergi ke Gereja. He..he..he.. terus terang baru sekali ini saya ke gereja dimana hampir seluruh umatnya orang bule. Orang kulit hitam dan India paling hanya 1-2 orang, dan orang Indonesia yang jelas cuma satu! Menurut info dari supir yang mengantar saya ke Gereja (orang kulit hitam)-penduduk asli Afsel yang berkulit hitam memiliki gereja sendiri jadi sedikit sekali orang asli sana yang beragama Katolik. Mungkin itu disebabkan politik apartheid di masa lalu.
Pemilik guest house juga memberikan semacam 'travel warning' kepada kami semua: "jangan pernah pergi di malam hari", kalaupun kami hendak pergi sebaiknya menggunakan taxi yang sudah dipesan sebelumnya di guest house. Memang sebelum pergi ke sana, saya sudah membaca di wikipedia bahwa angka kriminalitas di negara itu termasuk tertinggi didunia. Mal dan tempat perbelanjaan hampir semuanya tutup pada jam 6 sore. He..he..di kota Salatiga dan Temanggung tempat saya berasal saja, toko-tokonya tutup jam 8 atau 9 an. Memang kota Pretoria walaupun merupakan salah satu ibukota negara (mereka punya 3 ibukota) tetapi kota yang terbesar justru Johannesberg, selain itu Cape Town juga lebih ramai dan aman. Tapi ya sudah, wong kita ke sana juga dalam rangka dinas-bukan plesir kok.
Setibanya disana hari Minggu pagi dan kita sudah ditunggu supir taxi yang sudah dipesan sebelumnya oleh pemilik guest house dimana kita akan menginap nanti. Sepanjang jalan tol dari Bandara menuju Pretoria banyak terdapat padang rumput yang luas. Musimnya pada waktu itu adalah musim panas, tapi secara keseluruhan suhu disana tidak sepanas di Jakarta, maksimal berkisar 30 derajat celcius.
Sekilas kota Pretoria tidak sebesar kota Jakarta. Tidak banyak gedung bertingkat dan kawasan Guest House yang kami tempati adalah kawasan yang tenang dan sangat rindang. Menurut pemilik guest house-Ms Hannah dan Mr Hannes-kawasan itu merupakan salah satu kawasan tertua di Pretoria. Sorenya saya menyempatkan pergi ke Gereja. He..he..he.. terus terang baru sekali ini saya ke gereja dimana hampir seluruh umatnya orang bule. Orang kulit hitam dan India paling hanya 1-2 orang, dan orang Indonesia yang jelas cuma satu! Menurut info dari supir yang mengantar saya ke Gereja (orang kulit hitam)-penduduk asli Afsel yang berkulit hitam memiliki gereja sendiri jadi sedikit sekali orang asli sana yang beragama Katolik. Mungkin itu disebabkan politik apartheid di masa lalu.
Pemilik guest house juga memberikan semacam 'travel warning' kepada kami semua: "jangan pernah pergi di malam hari", kalaupun kami hendak pergi sebaiknya menggunakan taxi yang sudah dipesan sebelumnya di guest house. Memang sebelum pergi ke sana, saya sudah membaca di wikipedia bahwa angka kriminalitas di negara itu termasuk tertinggi didunia. Mal dan tempat perbelanjaan hampir semuanya tutup pada jam 6 sore. He..he..di kota Salatiga dan Temanggung tempat saya berasal saja, toko-tokonya tutup jam 8 atau 9 an. Memang kota Pretoria walaupun merupakan salah satu ibukota negara (mereka punya 3 ibukota) tetapi kota yang terbesar justru Johannesberg, selain itu Cape Town juga lebih ramai dan aman. Tapi ya sudah, wong kita ke sana juga dalam rangka dinas-bukan plesir kok.
2 comments:
Selamat ya dapat dinas ke LN. Ngomong2 ke sana ngapain? Nyontek ya? Kalau waktu sekolah dulu kita di'haram'kan nyontek, eh setelah kerja malah nyonteknya ampe ke Afrika. Posting lagi ya apa-apa yang didapet dari nyontek ke sono dan bagaimana bisa diterapkan di Indonesia. Salam super dahsyat. Semoga makin dahsyat.
Nyontek sih sah-sah aja asal bukan pas ujian dan menyangkut hak cipta. Toh tidak ada institusi atau bahkan perorangan 'nyontek' untuk memperbaiki diri sendiri. SARS sendiri juga 'nyontek' negara lain. Sebetulnya informasi yang terpenting yang harus diperoleh dari kunjungan kerja seperti ini adalah mendapatkan step-step strategis, kendala yang dihadapi sekaligus tindakan yang telah dilakukan untuk menghadapi kendala tsb. Memang tidak bisa 100% pengalaman mereka kita adopsi, tapi secara garis besar masalah yang dihadapi sama: SUMBER DAYA MANUSIA.
Post a Comment